Showing posts with label Tentang hidup. Show all posts
Showing posts with label Tentang hidup. Show all posts

Thursday, August 11, 2011

Lihat Kebunku


Mama saya adalah seorang pecinta bunga. Matanya akan menunjukkan ekspresi yang berbinar-binar ketika dia sedang membicarakan tentang bunga ataupun sedang mengurusi bunga-bunganya. Makanya salah satu impian saya adalah membelikan beliau sebuah rumah dengan cukup lahan untuk berkebun.

Setelah bertahun-tahun mendengar cerita-cerita mama mengenai bunga-bunganya akhirnya membuat saya penasaran juga. Dan saya putuskan untuk memulai berkebun juga, tempatnya di kantor saya. (Bukan) kebetulan bahwa kantor saya yang berbentuk Ruko memiliki tempat luas di lantai paling atas, sebenarnya fungsinya sebagai tempat untuk menjemur pakaian. Tapi karena tidak terpakai, maka cocoklah untuk ditaro beberapa pot bunga.

Dan mulailah pengalaman saya sebagai seorang tukang kebun amatiran … hehehehe… Ditemani oleh ibu pembantu di kantor, saya akhirnya membeli beberapa bunga. 2 pot bunga mawar, 1 pot bunga blue eyes, 1 pot bunga sutra Bombay, lalu masih ada 3 pot lagi yang saya lupa namanya. 1 jenis seperti sayuran dan akhirnya kita namakan po chai ( ngarang abiess) , lalu 1 jenis lagi berbentuk bola pingpong berwarna ungu.

Setiap pagi saya akan naik dan mengisi ember dengan air yang cukup untuk menyiram bunga-bunga itu. Ternyata ada beberapa bunga yang membutuhkan banyak air supaya tidak layu tapi ada juga yang tidak boleh disiram terlalu banyak. Awalnya saya tidak tahu, tapi lama-kelamaan akhirnya saya mengerti juga. Saya juga salah merawat bunga mawar saya, seharusnya mawar tidak boleh terkena matahari langsung.
Namun yang paling ditunggu-tunggu adalah cerita saya mengenai bunga sutra Bombay. Ada berapa yang mekar? Warna apa saja? Seru sekali bagian menghitung berapa yang mekar, karena banyak sekali yang mekar setiap hari.

Ternyata saya bukan pecinta bunga seperti mama saya, akhirnya setelah setahun merawat bunga-bunga itu akhirnya saya pun menyerahkan tugas itu kepada ibu pembantu di kantor.
Saya belajar dari pengalaman itu bahwa untuk merawat bunga saja, saya harus meluangkan waktu tiap hari loh.. bayangkan apa jadinya bunga-bunga itu tidak saya perhatikan, saya menyiramnya ya suka-suka sajalah. Kalau mood siram, kalau ga mood cuekin aja. Rasanya dalam waktu 1 minggu, semua bunga-bunga saya akan mati kekeringan.

Lalu saya berpikir, wah apalagi dalam satu hubungan ya? Saya rasa dalam satu hubungan, baik itu dengan pasangan, sahabat atau bahkan keluarga. Kita tidak bisa terlalu cuek loh, yang kalau mood kita baik sama mereka. Kalau ga mood ya sudah cuekin saja. Kalau mau ya kita kasih perhatian, kalau ga ..bisa ga ngomong seminggu. Astaga???

Pernah baca mengenai 5 bahasa kasih ? Tulisan dari seorang psikolog bernama dr. Gary Chapman. Tulisannya membuka pikiran saya, bahwa setiap orang memiliki tangki kasihnya masing-masing dan tangki kasih tersebut bisa menjadi kosong. Nah untuk mengisinya adalah melalui bahasa kasih.
Bahasa kasih merupakan apa yang orang itu butuhkan untuk merasa paling dicintai.

Ada 5 Bahasa kasih dan tiap orang memiliki bahasa kasih yang berbeda-beda :
1.       Kata-kata Pendukung
2.       Sentuhan fisik
3.       Saat-saat berkesan
4.       Pemberian
5.       Pelayanan

Tulisan ini hanya untuk mengingatkan diri saya, bahwa saya perlu melakukan perawatan tiap hari untuk “kebun-kebun” hubungan saya.
Kalau untuk bunga saja, kita bisa berikan perhatian setiap hari. Apalagi untuk sesama kita manusia, bukankah begitu?

Wednesday, August 10, 2011

Happiness Addicted


Ada 2 macam orang ketika lagi sakit :
Yang pertama adalah seperti saya, ketika sakit langsung mencari pengobatannya. Misalnya lagi sakit batuk, maka saya akan langsung jaga makanan saya. Stop yang goreng-gorengan, minyak-minyakan dan mencari obat untuk mempercepat penyembuhan saya.

Dan tipe kedua adalah kebalikan dari saya, yaitu tipe adik saya. Yang tidak memanjakan penyakitnya. Jadi dia dengan cueknya, akan tetap makan seperti dia tidak sakit batuk. Jadi sakit sedikit langsung cari obat itu bikin kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri menjadi menurun bahkan menjadi hilang sama sekali.

Ada betulnya juga sih pemikiran seperti itu, tapi kan saya  maunya cepet sembuh, pengen beraktivitas lagi dan minum obat itu mempercepat semuanya ( mental instant dimana-mana ya kakak? :D)

Trus bagaimana ya kalau yang sakit bukan tubuhnya, tapi jiwanya? Bukan gila ya maksudnya, tapi gara-gara cara hidup saya yang pengennya cari obat untuk menyembuhkan segala sesuatu eh jadi kebawa sampai ke masalah ‘Penyembuhan hati’…. Dimarahin customer,kerjaan numpuk dan deadline yang ga kekejer, bos yang permintaannya ajubile… semenit bilang pengen terbang pesawat G*ruda, semenit minta di cek pesawat lain, semenit lagi minta cek tanggal lain, abis itu minta jam lain…  Ahhhhhhh….langsung hari itu Bad Mood, bete berat dan menurut  buku panduan hidup saya dengan level bad mood yang berbeda-beda maka akan ada bermacam-macam treatment pula.

Level pertama ( tidak parah, hanya kesal ) makan coklat atau es krim sudah membantu.
Level kedua ( lumayan parah sampai saya butuh curcol) harus ‘disembuhkan’dengan makan besar dan makan enak. Saya bukan tipe yang doyan makan loh, tapi kalau stress dan bad mood larinya ke makanan ( kepengaruh sama teman-teman yang hobi makan kayaknya… hehehe).
Level terakhir adalah untuk kasus yang paling parahhh deh… maka saya akan melakukan terapi shopping, ngabisin uang ( semakin banyak semakin happy)…dan biasanya diakhiri dengan penyesalan karena pada dasarnya saya adalah perencana keuangan loh..

Well, pada awalnya sih 3 terapi ini berhasil buat saya. Setiap kali bete, kesel maka saya akan memilih 1 dari 3 pilihan diatas. Masalahnya adalah lama-lama saya berasa 3 terapi ini mulai tidak mempan mengembalikan mood saya. Terakhir saya malah merencanakan ke Bali, ngabur sementara dari rutinitas. Dan saya baru sadar, wah kayak gini sih ga bener ya? Next time, saya yakin Bali tidak akan mempan. Saya akan pergi ke Luar Negeri. Trus kalau lama-lama semuanya ga mempan, dan hati saya masih bete, masih sedih. Bagaimana dunk? Terapi apalagi yang harus diambil?

Di saat itulah, saya akhirnya memasukkan terapi level 4 menurut saya yaitu doing nothing. Ga usah diapa-apain deh. Bukankah wajar kalau manusia itu sedih, punya rasa bete? Kita kan bukan robot, yang harus diprogram untuk selalu merasa bahagia. Yupp, kita memang mencari kebahagiaan dan lama-lama rasanya kita sepertinya kecanduan untuk selalu merasa bahagia.. 24 7. Dan seperti kecanduan, yang awalnya dosis kecil akan selalu berakhir dengan dosis yang semakin besar dan besar dan besar sampai akhirnya OD. ( Ouchhh scary isn’t it?)

Let the life doing their own cure … sekarang kadang kalau saya bete, saya tidak mencari coklat atau es krim, saya tidak cari makanan enak, saya juga tidak shopping, dibiarkan aja lah.. tomorrow will be better, let’s keep hoping.

Thursday, June 30, 2011

Liburan (hanya bagi anak) SeKoLaH

"Nanti malam, kita main apa nih? perang bantal atau UNO?" pertanyaan muncul dari seorang anak laki-laki di belakang saya. Saya mencoba melihat ke belakang dan menghitung.. ternyata ada 4 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, kisaran usia 10-12 tahun. Dan percakapan para anak-anak kecil itu pun berlanjut mengenai rencana mereka malam ini.

Sepenggal pembicaraan mereka itu mencuri perhatian saya yang sedang asik menikmati es krim sundae coklat sambil menunggu 'jemputan' shuttle bus ke rumah. 
Ahh... liburan sekolah sudah dimulai ya? Mengulang kata 'liburan sekolah' saja, sudah membawa perjalanan panjang di otak saya. 3 Minggu paling indah dalam setahun, tanpa jam malam, tanpa harus bangun pagi, tanpa ada ulangan, tanpa ada guru yang jutek dan ngomel-ngomel di kelas, tapi walaupun begitu PR tetep ada ( mungkin para guru tidak rela nih kalau murid-muridnya 'hanya' sekadar berlibur :D ).

BERMAIN ! Liburan sekolah hanya diciptakan untuk satu tujuan yaitu bermain dengan sepuas-puasnya. Bermain dengan sepupu dan teman, bermain video game sampai larut malam, bermain dimana saja dan kapan saja dengan siapa saja pun. Bener ga? ??

Coba bayangkan dua anak kecil yang tidak saling kenal, berada dalam satu ruangan dan hanya ada 1 mainan yang bisa dimainkan yaitu sebuah bola dan percakapan mereka berdua adalah sebagai berikut :
Anak 1 : Hai , namanya siapa? ( senyum lebar, extrovert nih)
Anak 2 : Joni, kamu siapa? (sambil menyodorkan tangannya, masih belum mau tersenyum)
Anak 1 : Mario. kamu sekolah dimana?Aku sekolah di bla-bla school, international loh. ( suka pamer juga)
Anak 2 : Ooh..Aku juga sekolah di bla..bla International School ( Ga mau kalah)
              Eh...hmm...( mata melirik ke bola, tapi msh ragu mau ajak main atau tidak ya? Baru kenal...enak ga  ya?hmmm.....)

Oke, sepertinya imajinasi saya agak ngawur karena anak kecil ga mungkin bersikap seperti itu deh :)), yang benar adalah salah satu dari mereka akan memulai menendang bola itu ke arah anak yang lain. Dan anak yang lain akan merespon dengan membalas tendangan. Mereka mungkin akan terjatuh saat mengejar bola, lalu mereka berdua akan sama-sama tertawa seperti mereka adalah sepasang sahabat lama dan tau ga hebatnya? mereka belum tentu sudah tahu nama masing-masing loh.

Simple? Yes .
Pertanyaannya adalah kapan ya saya terakhir mengalami hal tersebut ?        ( kenalan dengan orang baru tanpa harus melakukan back ground check?--> kerja dimana?tinggal dimana? anak keberapa? ; atau personality check ? --> orangnya asik ga ya? sensi apa ga?bisa dipercaya ga? dan daftar pertanyaan pun akan terus bertambah)
Membuat saya tersadar, ternyata saya terlalu banyak mikir (atau didorong oleh rasa takut/tidak percaya ya?). Saya mulai kehilangan makna kesederhanaan itu, think less do more, yang penting playing together lah.
Sepertinya saya perlu memasuki momen 'liburan sekolah', momen dimana saya bisa bermain dengan orang lain tanpa harus berpikir macam-macam. BERMAIN karena itulah penyeimbang kehidupan , hidup tidak harus selalu tentang kerjaan dan keseriusan melulu kan?

We don't stop playing because we grow old; we grow old because we stop playing.
George Bernard Shaw
 


Friday, June 17, 2011

Miss Universe VS Pemberi Kado



Topik ini muncul ketika saya sedang menonton acara di tv untuk program bulan Juni ini dan salah satu yang akan di tayangkan adalah ajang Miss USA. Ketika melihat itu, saya tiba-tiba teringat dengan teman saya yang menceritakan mengenai topik ini. Saya harap dengan menuliskannya, cerita ini akan tersebar lebih jauh lagi.

Namanya Joko, teman saya itu. Kita sudah bertahun-tahun tidak ketemu. Ketika itu, saya mencoba menelponnya dan minta ketemuan dan akhirnya kita pun ketemuan di McDonnals Lokasari. Kami memulai percakapan mengenai kabar masing-masing. Dan akhirnya sampailah percakapan mengenai komunitas yang disebut CARECELL. Komunitas di gerejanya, yang mengajarkan menjadi orang yang peduli dengan sesama.

“ Sekarang gue tanya ya, siapa Miss Universe tahun 2006?” Joko mengakhiri pertanyaannya dengan sedikit tersenyum. Ah ini pertanyaan macam apa pula?  Susah sekali buat tipe orang kayak saya yang (hampir) selalu mengalami kesukaran mengingat nama orang. :D Akhirnya dengan senyum kikuk, saya pun menjawab tidak tahu. ( Ya iyalah, sekarang kalau saya tanya balik ke orang-orang, pasti juga pada ga tahu jawabannya. kan?)

Setelah itu Joko bukannya memberitahu jawabannya, dia malah bertanya mengenai hal lain. Seperti siapa pemenang nobel? Pemenang ini itu? Dikasi pertanyaan seperti itu, saya cuma bisa tersenyum saja dan bilang 
“ wah mana ingat ya?” belaga lupa padahal sih kaga tau juga jawabannya. Lalu dia menanyakan lagi, “ Tapi kamu ingat kan siapa yang baru-baru ini memberi kamu hadiah?”. 
Hmm.. sepertinya saya menangkap arah pembicaraan ini, dia sedang mencoba membagikan nilai penting dalam hidup ini. Joko bilang menjadi terkenal, kaya, menjadi orang paling cantik sedunia tidak menjamin bahwa kita diingat oleh orang-orang, tapi ketika kita bisa peduli dengan orang terdekat kita dan walaupun kita bukan orang terkaya, terkenal, tercantik. Percaya deh, nama kita pasti diingat.

Pemikiran yang cukup simple, karena ada benarnya juga. Siapa juga yang bakal inget siapa pemenang Miss Universe, Miss USA, Nobel, Pulitzer, Oscar? ( Hayoo jawab dengan jujur). Tapi saya ingat nama orang-orang yang peduli dengan saya.

Popon, nama aslinya sih  Vony Iriani. Tapi sudah terbiasa dipanggil Popon, dia sahabat terbaik saya di masa kuliah.  Ada banyak hal yang Popon pernah lakukan dan saya ga akan pernah lupakan. Tapi, ada satu kejadian yang sangat berarti buat saya. Jadi hari itu, adalah dateline saya untuk memasukkan proposal skripsi. Popon menayakan, saya sudah buat sampai mana? Soalnya kalau saya tidak memasukan hari ini, maka saya harus menunggu 1 semester lagi untuk mengajukan proposal baru. Jujur saja, saat itu saya sudah males banget ngerjain skripsi, soalnya uda tegang duluan membayangkan suasana sidang skripsi. Saya takut juga ga lulus, apalagi mencari topik skripsi bisa dibilang gampang-gampang susah atau susah susah gampang ya?
Ketika saya bilang kayaknya ga keburu buat masukin proposal hari ini (karena saya sebenarnya belum bikin.) Popon memaksa saya agar membuat proposal itu, dia suruh saya datang ke rumahnya pagi itu juga , dan dia bantu ngetik  di komputernya (soalnya warnet belom buka jam segitu, jadi saya harus ke rumahnya buat ngetak ngetik supaya proposal skripsi itu kelar hari itu juga. ) Saya bersyukur untuk ‘ pemaksaan ‘ itu. Singkat cerita, kita berdua bisa menyelesaikan kuliah di tahun yang sama dan wisudaan bareng. Ada segudang lagi mengenai kebaikan popon yang bisa saya ceritakan, mungkin dia lupa tapi yang jelas saya sebagai orang yang menerima kebaikannya tidak pernah lupa.

Mengenai pemberi kado terakhir, hmm… ada satu kado yang membuat saya cukup berkesan sih tahun ini, sebuah dompet biru muda. Pemberian dari Melisa. Sebenarnya yang membuat hadiah itu berkesan bukan karena dompetnya, tapi lebih kepada pemilihan warnanya. Lisa bilang dia memilih warna itu, karena dia tahu bahwa warna biru merupakan warna kesukaan saya. Ahh saya jadi terharu, bahwa ada orang yang cukup mengenal saya dan cukup peduli dengan apa yang menjadi warna kesukaan saya. How thoughtful she is, right?


Jadi pilihan ada di tangan kita masing-masing, bukan? Apakah kita mau hanya menjadi orang terkenal, terpandai, terkaya, tercantik tapi nama kita bisa dengan lebih mudah dilupakan karena akan selalu ada orang yang lebih terkenal, lebih pandai, lebih kaya , lebih cantik setiap tahunnya. Atau kita mau menjadi orang yang diingat oleh sahabat kita, rekan kerja kita, tetangga kita, keluarga kita karena kita menjadi orang yang peduli, berbuat baik, dan menyentuh kehidupan mereka? Hey, ingatan mengenai perbuatan baik itu bertahan bertahun-tahun loh. 

Masih ingat kan dengan orang  terakhir yang memberi kado kepada kamu?

Friday, June 10, 2011

I'm not for Everybody ...

Pernah ga kita liat ke kaca? Terus perhatiin wajah kita agak lamaan dikit deh..mulai dari bagian alis kiri dan alis kanan , terus ke mata ( sebagian punya mata belo, ada juga yang sipit), turun lagi ke bagian hidung ( entah hidungmu mancung ala bule atau sekadar pas mancungnya, atau mungkin agak pesek), lalu kita juga akan  melihat-lihat ke arah pipi kiri kanan dan bagi yang punya lesung pipit ( i wish for it) akan langsung tersenyum untuk melihat seberapa 'dalem' lesungannya. Dan terakhir adalah bagian bibir kita. Lalu kita melihat keseluruhan wajah kita, mungkin disana ada beberapa tahi lalat yang 'meramaikan' wajah kita, atau juga ada beberapa bekas luka, bekas cacar seperti yang ada di wajah saya. Tau ga apa yang saya rasakan ketika saya bisa dengan jujur memandang wajah saya di kaca? I see my uniqueness...ya, saya melihat bahwa well, ini adalah saya. Mungkin saya bukan wanita tercantik di dunia ini ( kalau iya, saya pasti uda jadi miss universe dunk ?), saya mungkin punya wajah yang orang-orang bisa memberi label : Pasaran, biasa aja, ga menarik. But then, i realized that yeah i don't really care about what other people may think about me, coz let me tell you something ,"I'm not for everybody!".


Selain wajah, coba yuk kita lihat ke 'siapa' kita. Setiap kita pasti memiliki kepribadian beda, kebiasaan unik, pemikiran tak sama, cara bicara, gaya hidup, dan semua hal lainnya yang bisa menceritakan tentang 'siapa' kita.

Contoh simple dari siapa saya aja ya : I'm not an animal person,  saya takut sama yang namanya ayam, jijik sama kecoa, ga suka banget ama kucing, satu-satunya binatang yang bisa saya suka adalah anjing, itu pun dengan catatan, hanya dengan anjing kecil yang ga suka gonggong dan kalem-kalem aja ya :)
Kebiasaan makan saya yang agak picky suka bikin pusing temen-temen..hahahaha....kasus terakhir adalah waktu beli nasi padang dengan ayam goreng, ketika saya liat dagingnya agak pink gitu. Saya ga menyentuhnya sama sekali dan menghibahkan ke manajer saya..:D
Masih banyak lagi nih listnya : kebiasaan tidur, kebiasaan memberi nama benda, and so on and so on....

Pemikiran mengenai I'm not for everybody membantu saya melihat bahwa ngak papah kok kalau tidak semua orang bisa 'cocok' sama kita , tidak usah merasa tertolak atau merasa diri kurang menarik. Karena suatu hari, kamu pasti akan bertemu dengan orang-orang yang akan melihat kamu sebagai pribadi yang sangat unik, sangat menarik dan mereka akan merasa sangat beruntung bisa mengenal kamu loh ... :D