Ketika mendengar cerita ini di sebuah rumah duka, saya cuma bisa mengkomentari " One in a million lah papa kayak dia ".
Debby didaulat mewakili pihak keluarga untuk menyampaikan beberapa kata mengenai almarhum papanya yang baru saja meninggal senin kemarin, dan dia mulai bercerita " Kalau saya ceritakan mengenai hubungan saya dengan papa, pasti semua anak perempuan di ruangan ini bisa ngiri dengan saya. Karena saya sangat dekat dengan papa"
Saya pun semakin penasaran mengenai sosok papa ini, lalu Debby pun menceritakan bahwa hubungannya dengan papa sama seperti orang pacaran. Karena papanya selalu memanggilnya dengan tambahan kata
' Sayang ' .. Contohnya : Yaya sayang, lagi ngapain? Duh so sweet banget ya?
Bbm yang isinya : Papa kangen nih adalah hal yang biasa.
Mereka sering menghabiskan waktu berdua, ngobrol sampe malem , pergi berdua ( kayak nge-date ). Dan satu hal lagi mengenai papa Debby, dia bilang begini " Papa adalah orang yang baik, dia tidak pernah bilang tidak untuk semua permintaan anaknya. Papa cuma punya 2 jawaban kalau saya minta sesuatu sama dia. Pertama adalah jawaban YA, dan kedua adalah jawaban ' Papa usahain ya' "
Ketika saya mendengar mengenai figur papa Debby, saya cuma berpikir ternyata ada ya papa sebaik itu? Saya merasa Debby adalah the luckiest girl ini the world karena disayangi oleh papa seperti itu.
Saya membayangkan jika saya memiliki sosok papa seperti itu, diperlakukan seperti itu oleh papa saya sendiri. Saya akan sangat senang sekali, tapi sayang sekali hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh papa saya. Entah apakah karena saya dibesarkan di keluarga Chinesse, yang menurut saya terlalu kaku, tidak ekspresif dalam menyampaikan kasih sayang. Saya tahu papa pasti sayang sama saya, tapi ya gitu deh..Tidak ada tindakan yang hangat dan ekspresif dari pihak papa. Bahasa cintanya cuma satu yaitu dia membelikan kita barang-barang, itu artinya dia care sama kita.
Dalam ruangan itu sambil mendengarkan lanjutan cerita mereka di KL tempat papa Debby dirawat karena sudah koma, saya berandai-andai jika saya memiliki papa yang memanggil dengan panggilan sayang, jika saya bisa menghabiskan waktu berdua dengan papa saya seperti orang pacaran, dinner di restoran gitu. Atau saya bisa curhat sampai malem, saya bisa manja-manjaan di pelukan papa ? Dan saya sadari hal itu adalah hanyalah mimpi. Papa tidak mungkin bisa berubah menjadi orang seperti itu.
Tapi saya kemudian berpikir, gimana kalau saya yang memperlakukan papa secara special? kalau saya yang ajak dia untuk dinner berdua di resto, kalau saya yang mendengarkan semua curhatan dia? Gimana kalau saya menjadikan papa sebagai " The luckiest dad in the world? "
Ide gila memang, ga gampang memang. Karena sudah terbentuk kebiasaan untuk tidak saling mengekspresikan kasih sayang dalam keluarga kita tapi saya mau ketika hidup saya berakhir dan papa bisa berbicara mengenai betapa dia bersyukur memiliki anak perempuan seperti saya , yang memperlakukan dia dengan sangat special. Dan orang-orang bisa terinspirasi dan berpikir " Wah..he's the luckiest dad in the world ! "
Showing posts with label Menyentuh hati. Show all posts
Showing posts with label Menyentuh hati. Show all posts
Friday, January 13, 2012
Wednesday, November 16, 2011
Twinkle in her eyes
A twinkle in the eyes means joy in the heart.... Proverbs 15 : 30 A - MSG Version
Saya termasuk orang yang percaya bahwa mata itu bisa berbicara, ada yang istilahnya mata itu ga bohong. Tapi teman saya pernah mencela mengenai hal ini, katanya " kok percaya hal begituan sih?" .
Well, setiap orang bebas berpendapat ya?
Saya suka memperhatikan mata orang ketika berbicara, kadang manusia itu pinter bersandiwara sih, tapi seperti yang saya bilang mata itu berbicara deh. Apakah benar senyum yang menghiasi wajah, itu terpancar dari matanya juga? Ada yang bisa senyum lebar sepanjang pembicaraan, tapi matanya terasa kosong, hampa. You just can't lie with your eyes!
Topik mengenai twinkle in her eyes terinspirasi dengan kejadian nyata , baru saja saya alamin kemarin.
Saya bersyukur karena sebagai manusia, Tuhan menciptakan suatu rasa yang namanya rasa empati, rasa kasihan, rasa ingin menolong orang lain. Dan saya bersyukur terlebih lagi karena keluarga saya memberikan contoh baik mengenai rasa peduli terhadap sesama.
Berawal dari cerita saya mengenai seorang ai (panggilan untuk tante) pemulung di daerah kompleks kantor saya . Seorang ibu yang kira-kira seumuran dengan mama saya, dengan 4 anak. Yang demi memenuhi kebutuhan hidupnya terpaksa harus menjadi pemulung. Suaminya meninggal dengan mendadak, membuat ai yang tidak punya kemampuan apa-apa mengambil keputusan untuk jadi pemulung.
Saya jelas tidak tega melihat keadaan ai, dan seorang koki saya pernah memberikan satu nasihat bagus sekali. Dia pernah bilang ketika itu ada seorang pengemis datang di restoran saya, " Jangan cuma bilang kasihan saja. Kalau mulut sudah keluar kata "kasihan ya?", dompet musti buka kasi uang ke orang itu"
Sejak itu, setiap saya merasa kasihan terhadap orang, kalau saya tidak mau keluarin uang buat bantu tuh orang, mending jangan sampai ada kata " kasihan ya?" meluncur dari mulut saya.
Saya mempunyai belief system yang mengatakan tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini. Sejak pertemuan pertama, saya memang sudah tergerak untuk membantu si ai. Waktu itu saya pikir, maybe cuma kesempatan hari ini saya bisa ketemu dia, jadi saya tidak mau ada penyesalan yang timbul karena saya tidak melakukan apa-apa padahal kesempatan diberikan bagi saya untuk berbuat sesuatu.
Tapi ternyata pertemuan pertama berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya, sampai akhirnya saya menjadi rutin mengumpulkan botol-botol plastik untuk diberikan kepada ai dan juga bantuan uang. Keluarga saya tahu mengenai ai ini karena di rumah, saya sampai membeli tempat sampah khusus botol plastik. Jadi semua orang dirumah, juga membantu saya mengumpulkan botol-botol plastik.
Sampai suatu hari, saya mengambil foto si ai secara candid, tujuannya agar keluarga saya tahu bahwa ini loh orang yang selama ini saya ceritakan, keadaannya ya seperti ini. Kurus dan tua tapi harus memanggul karung berisi botol plastik dan karton bekas yang berat.
Adik saya dan papa saya langsung berespon terhadap foto yang baru saja terkirim di bb group family.

Papa terus bertanya-tanya soal si ai, kapan saya ketemu dia lagi? Kasihan ya, kurus sekali si ai. Dan akhirnya dia mengutarakan kalau dia mau membelikan 10 kg beras untuk si ai.
Akhirnya saya menyampaikan niat baik papa kepada ai, saya serahkan 10 kg beras dan dia berterima kasih.
Keesokan harinya, kita bertemu lagi . Ai abis melakukan 'penyetoran' botol-botol plastik yang sudah dia kumpulkan dan saya sedang membeli makan siang .
Tahu apa yang dia lakukan saat itu? Dia pegang tangan saya dan melihat saya mata ke mata dan berkata," Terima kasih ya, papa kamu biar panjang umur. Anak-anak saya juga bilang terima kasih"
Mata nya ketika itu, sangat tulus dan benar-benar berterima kasih. Saya hanya bisa diam saja, menatap balik ke matanya dan tersenyum. Andai saja, mata saya punya kemampuan buat men-capture mata si ai, lalu bisa saya upload ke blog ini deh.. :D
Hari itu, saya sudah mendapatkan reward tak terlupakan ketika bisa berbuat baik, ucapan terima kasih yang keluar bukan melalui kata-kata saja tetapi lewat mata yang bersyukur.
Terima kasih Tuhan untuk satu kesempatan lagi untuk berbagi kebaikanMu dengan orang lain.
Saya termasuk orang yang percaya bahwa mata itu bisa berbicara, ada yang istilahnya mata itu ga bohong. Tapi teman saya pernah mencela mengenai hal ini, katanya " kok percaya hal begituan sih?" .
Well, setiap orang bebas berpendapat ya?
Saya suka memperhatikan mata orang ketika berbicara, kadang manusia itu pinter bersandiwara sih, tapi seperti yang saya bilang mata itu berbicara deh. Apakah benar senyum yang menghiasi wajah, itu terpancar dari matanya juga? Ada yang bisa senyum lebar sepanjang pembicaraan, tapi matanya terasa kosong, hampa. You just can't lie with your eyes!
Topik mengenai twinkle in her eyes terinspirasi dengan kejadian nyata , baru saja saya alamin kemarin.
Saya bersyukur karena sebagai manusia, Tuhan menciptakan suatu rasa yang namanya rasa empati, rasa kasihan, rasa ingin menolong orang lain. Dan saya bersyukur terlebih lagi karena keluarga saya memberikan contoh baik mengenai rasa peduli terhadap sesama.
Berawal dari cerita saya mengenai seorang ai (panggilan untuk tante) pemulung di daerah kompleks kantor saya . Seorang ibu yang kira-kira seumuran dengan mama saya, dengan 4 anak. Yang demi memenuhi kebutuhan hidupnya terpaksa harus menjadi pemulung. Suaminya meninggal dengan mendadak, membuat ai yang tidak punya kemampuan apa-apa mengambil keputusan untuk jadi pemulung.
Saya jelas tidak tega melihat keadaan ai, dan seorang koki saya pernah memberikan satu nasihat bagus sekali. Dia pernah bilang ketika itu ada seorang pengemis datang di restoran saya, " Jangan cuma bilang kasihan saja. Kalau mulut sudah keluar kata "kasihan ya?", dompet musti buka kasi uang ke orang itu"
Sejak itu, setiap saya merasa kasihan terhadap orang, kalau saya tidak mau keluarin uang buat bantu tuh orang, mending jangan sampai ada kata " kasihan ya?" meluncur dari mulut saya.
Saya mempunyai belief system yang mengatakan tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini. Sejak pertemuan pertama, saya memang sudah tergerak untuk membantu si ai. Waktu itu saya pikir, maybe cuma kesempatan hari ini saya bisa ketemu dia, jadi saya tidak mau ada penyesalan yang timbul karena saya tidak melakukan apa-apa padahal kesempatan diberikan bagi saya untuk berbuat sesuatu.
Tapi ternyata pertemuan pertama berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya, sampai akhirnya saya menjadi rutin mengumpulkan botol-botol plastik untuk diberikan kepada ai dan juga bantuan uang. Keluarga saya tahu mengenai ai ini karena di rumah, saya sampai membeli tempat sampah khusus botol plastik. Jadi semua orang dirumah, juga membantu saya mengumpulkan botol-botol plastik.
Sampai suatu hari, saya mengambil foto si ai secara candid, tujuannya agar keluarga saya tahu bahwa ini loh orang yang selama ini saya ceritakan, keadaannya ya seperti ini. Kurus dan tua tapi harus memanggul karung berisi botol plastik dan karton bekas yang berat.Adik saya dan papa saya langsung berespon terhadap foto yang baru saja terkirim di bb group family.

Papa terus bertanya-tanya soal si ai, kapan saya ketemu dia lagi? Kasihan ya, kurus sekali si ai. Dan akhirnya dia mengutarakan kalau dia mau membelikan 10 kg beras untuk si ai.
Akhirnya saya menyampaikan niat baik papa kepada ai, saya serahkan 10 kg beras dan dia berterima kasih.
Keesokan harinya, kita bertemu lagi . Ai abis melakukan 'penyetoran' botol-botol plastik yang sudah dia kumpulkan dan saya sedang membeli makan siang .
Tahu apa yang dia lakukan saat itu? Dia pegang tangan saya dan melihat saya mata ke mata dan berkata," Terima kasih ya, papa kamu biar panjang umur. Anak-anak saya juga bilang terima kasih"
Mata nya ketika itu, sangat tulus dan benar-benar berterima kasih. Saya hanya bisa diam saja, menatap balik ke matanya dan tersenyum. Andai saja, mata saya punya kemampuan buat men-capture mata si ai, lalu bisa saya upload ke blog ini deh.. :D
Hari itu, saya sudah mendapatkan reward tak terlupakan ketika bisa berbuat baik, ucapan terima kasih yang keluar bukan melalui kata-kata saja tetapi lewat mata yang bersyukur.
Terima kasih Tuhan untuk satu kesempatan lagi untuk berbagi kebaikanMu dengan orang lain.
Subscribe to:
Posts (Atom)
